“Jas merah. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah.” (Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia)

Bulan Oktober merupakan bulan yang sangat bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Karena pada bulan inilah diadakan Kongres Pemuda II, dan menghasilkan ikrar para pemuda bangsa untuk berbakti pada negerinya, Sumpah Pemuda. Tak hanya itu, dalam rangkaian acara yang sama, lagu kebangsaan negara kita, Indonesia Raya, diperdengarkan untuk pertama kalinya.

Akan tetapi, makna Sumpah Pemuda kini tak lagi diresapi oleh pemuda Indonesia. Pembacaan teks Sumpah Pemuda pada saat upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda hanya dianggap sebagai tata cara seremonial belaka. Bahkan, tak dapat dipungkiri pembacaan teks Sumpah Pemuda selalu dipandang sebelah mata oleh peserta upacara bendera. Sumpah Pemuda hanya diucapkan di mulut saja, semangatnya tak lagi diresapi di dalam hati. Sebuah bukti bahwa kurang adanya penghargaan terhadap nilai luhur para pendiri bagsa.

Semangat Sumpah Pemuda yang telah hilang daru diri pemuda menyebabkan berbgai masalah social di bumi pertiwi. Terbukti dengan banyaknya kenakalan remaja, tawuran antarpelajar, narkoba, makin lama, makin marak terjadi di negeri ini. Lebih memprihatinkan lagi, semua itu dilakukan oleh pemuda bangsa, masa depan bangsa ini. Ya, sungguh memprihatinkan melihat keadaan bangsa ini. Semangat Sumpah Pemuda kini luntur, digantikan oleh mental ‘sampah’ pemuda.

Tentu saja hal ini tak dapat dibiarkan begitu saja. Jangan sampai di masa mendatang para generasi penerus bangsa lupa dengan Pancasila, jati diri mereka sendiri. Negara ini akan hancur, ibu pertiwi akan menangis bila Pancasila yang merupakan identitas Bangsa Indonesia dilupakan begitu saja, tanpa ada rasa bangga untuk menghayatinya. Bagaimana negara ini akan maju bila tidak dilandasi dengan ideologi yang kuat?

Pemerintah dan instansi pendidikan harus berusaha untuk menanamkan lagi semangat Sumpah Pemuda pada diri pemudanya. Pendidikan berkarakter harus lebih diupayakan lagi agar di masa mendatang, tunas muda negeri ini memiliki nasionalisme yang kuat, yang sangat mencintai negaranya. Namun, yang terpenting adalah para elit politik harus dapat menjadi tokoh yang patut diteladani oleh para kaum muda, sehingga para pemuda dapat meneruskan semangat Sumpah Pemuda. Agar mereka tak lagi menjadi ‘sampah’ yang hanya menimbulkan masalah yang tak kunjung reda bagi ibu pertiwi.

Bila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pemuda Indonesia tak lagi memiliki semangat Sumpah Pemuda, apa jadinya bangsa ini kelak? Bila Sumpah Pemuda dilupakan oleh pemuda harapan bangsa, bagaimanakah nasib bangsa ini kelak? Sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab, namun perlu kita renungkan di awal Bulan Oktober ini. (Amalia Fitri Kurnia Dewi)

Sebelumnya Berikutnya